Minggu, 06 Maret 2011

Data Siswa MIRM 2010-2011

Data Siswa MIRM 2010-2011. Lihat disini !

Buletin Mustarsyidin

Buletin ini adalah merupakan hasil refleksi dari perjalanan panjag Madrasah Ibtidaiyah Raudlatul Mustarsyin

Edisi Ketiga

PERJUANGAN BELUM SELESAI

Oleh : Ispandi

Lima tahun yang lalu, kita layak berbangga karena orang madura datang bahu membahu untuk membangun Madrasah ini. Tidak sedikit meteri yang dikorbankan bahkan munkin sebagian yang lain juga mengorbankan psikisnya untuk menyelesaikan bangunan Madrasah yang pembangunannya masih terseok-seok. Perasaan lelah apalagi putus asa seakan menjadi sesuatu yang haram untuk menyentuh fikiran mereka. kebersamaan, rela berkorban dan perjuangan pantang menyerah itulah yang sa’at ini seakan hilang dari diri kita.

Berdiri megah dan kokohnya bangunan Madrasah ini seakan sudah menjadi jawaban atau bahkan puncak kesuksesan yang masyarakat raih, tanpa lagi perduli bagaimana cara mengelolah dan mengembangkan bangunan Madrasah beserta prestasi yang harus diraih. Kita sering terjebak pada perdebatan-perdebatan yang tidak substantif (tidak penting) untuk diperdebatkan tanpa harus berfikir ulang bahwa tugas Madrasah ini semakin berat di dalam mempersiapkan generasi penerus bangsa.

Adanya sebagian orang yang menginginkan madrasah ini menerima siswa tanpa seleksi atau tanpa adanya persyaratan adalah merupakan masalah tersendiri yang harus segera dicarikan solusinya, sementara tuntutan agar Madrasah ini bisa berprestasi sejajar dengan sekolah lain juga tidak sedikit. Dua arus keinginan besar ini terus mengemuka dan sampai hari ini belum ada sebuah jalan keluar yang bisa diterima kedua golongan ini. Karena memang dari dua keinginan itu ada sisi negatif dan sisi positifnya yang bisa kita rasakan.

Pertama, kalau kita mengikuti keinginan kelompok yang menginginkan Madrasah ini menerima siswa tanpa seleksi atau tanpa persyaratan. maka semua orang-orang yang berjasa terhadap Madrasah ini, putra-putrinya dipastikan bisa diterima tanpa harus repot-repot memikirkan persyaratan. Hal ini tentu dengan resiko madrasah ini akan selamanya jauh tertinggal dari sekolah-sekolah lain.

Kedua, kalau kita mengikuti keinginan kelompok yang menginginkan Madrasah ini berprestasi dan sejajar dengan sekolah lain, maka kita harus melakukan seleksi penerimaan siswa baru dengan persyaratan-persyaratan yang sudah ditentukan dengan konsekwensi putra-putri orang yang berjasa terhadap Madrasah ini juga harus siap bersaing untuk memperebutkan jatah kursi yang hanya berjumlah 80 kursi.

Pilihan pertama sudah kita berlakukan dua (2) tahun sebelum ini, dan ternyata juga melahirkan masalah baru ketika siswa-siswi yang dipaksakan untuk diterima, pada waktu kenaikan kelas dinyatakan tidak naik kelas. Tidak sedikit wali murid yang kemudian mempertanyakannya, bahkan ada yang mengancam akan memindahkan anaknya. Begitu juga dengan pilihan kedua yang baru kita berlakukan, tidak sedikit orang-orang yang putra-putrinya dinyatakan tidak lulus tes harus datang dengan muka bermuram durja atau bahkan ngobrolin sesuatu yang kurang layak untuk diucapkan.

Kejadian-kejadian yang Madrasah alami adalah merupakan sebuah dinamika yang harus dikaji, dengan bingkai tidak ada yang tersakiti tapi juga jangan mengorbankan Madrasah ini untuk berkembang dan bersejajar dengan sekolah lain.

Madrasah ini harus mulai mentradisikan cinta kepada ilmu dan ikhlas di dalam menerima cobaan apapun serta mengembalikan semangat berjuang tanpa pamrih yang pernah menghiasi saudara-saudara sekalian

Kalau harus jujur, Madrasah ini berdiri kokoh tapi seakan tidak bertuan. Saudara-saudara yang sudah berkorban mendirikan bangunan Madrasah ini hanya asyik mengamati dari kejauhan sana dan bahkan melakukan otokritik dari tempat yang begitu tinggi sehingga nyaris tidak kami dengar.

Perjuangan kita belum selesai, Madrasah ini masih membutuhkan masukan dari orang-orang yang cinta dan perduli terhadap Madrasah ini. Dan satu hal yang harus ditanamkan dalam diri kita semua bahwa Kepala Madrasah bukan penguasa tunggal yang berhak untuk melakukan apapun dan bebas dari kritik siapapun. Kepala Madrasah hanyalah seorang yang tidak bisa berbuat apapun tanpa restu dan dukungan dari para pemilik saham seperti kalian.

Jangan pernah membuat stigma (kesan) Madrasah ini seperti kacang yang lupa pada kulitnya, yang gampang melupakan dan meninggalkan orang-orang yang berjasa terhadap pembangunan Madrasah ini. Sekali lagi kami tegaskan bahwa perjuangan ini belum selesai dan masih membutuhkan sumbangsih ide dan kritik dari para sesepuh dan orang-orang yang berjasa terhadap Madrasah ini. Bersambung.......

Persyaratan penerimaan Siswa Baru 2011/2012

- Telah berusia sekurang-kurangnya 6 tahun pada bulan juli 2011

- Melampirkan foto copy akte kelahiran

- Melampirkan foto copy KTP Bapak/ Ibu

- Mengisi formulir pendaftaran

- Membayar biaya pendaftaran (pengumuman menyusul)

- Lulus Tes yang diselenggarakan Panitia

Untuk bisa lulus tes

1. Harus bersaing dengan calon siswa baru yang lain dalam hal :

a. Membaca huruf latin

b. Menulis huruf latin

c. Berhitung

d. Membaca huruf hijaiyah (Alqur’an)

e. Menghafal do’a-do’a pendek

f. Mengenal perbedaan warna

NB: bisa membaca, menulis dan berhitung bukan jaminan untuk diterima karena harus bersaing dengan calon siswa yang lain. Mohon dipersiapkan dari sekarang





DESAIN MUSTARSYIDIN 2011-2012

Tahun 2010 telah berlalu meninggalkan kita semua, hanya kenangan-kenangan indah dan pahit yang mungkin tersisa dalam pikiran kita semua. dan harapan serta perasaan dag dig dug yang mungkin dialami oleh semua siswa kelas 6 yang sudah tinggal empat bulan lagi akan berjibaku dengan Ujian Nasional. Semua berjalan begitu cepat dan tiba-tiba dengan tanpa memperdulikan orang-orang yang berjalan dan bekerja secara santai dengan tanpa motivasi. Adanya pergantian tahun yang begitu cepat seakan-akan membuat kita semua kaget karena 2010 telah pergi begitu jauh meninggalkan kita dan tidak akan pernah kembali lagi menghampiri kita untuk selamanya.

Cepatnya perputaran waktu yang tidak pernah perduli dengan pekerja santai tanpa motivasi itu, telah menghentakkan saya dari lamunan panjang 2010 dan begitu kagetnya penulis ketika melihat mustarsyidin tidak ada perubahan yang berarti. Bagi sebagian keluarga besar Mustarsyidin mungkin sudah menganggap bahwa Mustarsyidin sudah mencapai prestasi yang luar biasa dengan bukti mampu mendirikan gedung bangunan yang bisa dikatagorikan megah. Tapi bagi penulis ini baru awal sebuah perjalanan panjang yang akan sangat melelahkan dan menguras banyak keringat. Kalau dalam proses pembangunan gedung, orang-orang bisa bahu membahu sumbangan untuk menyelesaikan bangunan sampai selesai tapi tidak akan terjadi setelahnya. Percikan-percikan konflik perpecahan orang yang dulu bahu membahu terus menggelinding bagai bola salju yang terus membesar dengan tidak lagi memperdulikan status, latar belakang dan usia. Begitu juga dengan semangat dan keperdulian yang dulu mereka miliki, terus memudar seiring semakin lamanya memori waktu yang seandainya itu selalu diingat dan direfleksikan pada generasi muda Mustarsyidin akan menjadi kekuatan yang luar biasa.

Menurut penulis, Mustarsyidin hari ini sangat rapuh dan dalam tanda kutif harus segera membenahi pola komunikasi antar sesama keluarga besar Mustarsyidin, dengan cara memanusiakan semua keluarga besarnya dengan tidak ada lagi klaim ini mandat dari kiai ataupun ini mandat dari langit, dengan tidak sedikitpun mengurangi rasa Ta’dlim dengan para kiai tentunya. Cara-cara yang kurang memanusiakan keluarga lain harus segera diakhiri karena hanya akan meninggalkan sakit hati yang begitu mendalam. Keyakinan penulis, kawan-kawan yang ada dan pernah berjuang membantu berdirinya mustarsyidin bukanlah sekelompok manusia bodoh yang layak untuk tidak dimanusiakan.

Perjalanan Mustarsyidin masih sangat panjang, sementara umur kita terbatas. Kalau kita sebagai generasi pertama sudah berbuat kesalahan yang fatal yang mengakibatkan memecah belah kekuatan yang ada, maka mustarsyidin tidak akan bisa melanjutkan perjuangannya. Mustarsyidin hanya akan menjadi sebuah dongeng anak-anak menjelang tidur. Kita harus belajar dari hilangnya pesantren Kanjeng Sunan Ampel di Ampel Delta setelah mencetak begitu banyak ulama’ dan hilangnya padepokan kanjeng syeh siti Jenar yang pengikut-pengikutnya masih bertebaran di hampir seluruh Nusantara. Oleh karena itu jangan menghancurkan Mustarsyidin dari dalam, mari kita rawat dan benahi kesalahan-kesalahan kita yang pernah dilakukan dan atau masih direncanakan.

Tugas kita untuk memelihara dan menjaga Mustarsyidin tidaklah gampang, bahkan mungkin boleh dikatakan akan lebih berat dan lebih sulit dari waktu membangun, karena bukan hanya pemikiran tapi juga waktu yang tidak sedikit yang harus kita curahkan buat Mustasyidin ini. Selain itu potensi-potensi Konflik yang terus dirajut oleh beberapa orang Pengurus akan selalu terus meyertai dan mengancam perjalan dan keberadaan Mustarsyidin kedepan.

Di 2011 yang baru dua hari kita lalui, mari membangun sebuah komitmen bersama bahwa ketika kita menjadi atau ditunjuk sebagai pengurus Yayasan, Kepala Madrasah ataupun Guru maupun Komite kita Garansikan (jaminkan) diri kita sebagai Khadimul Ummah (Pelayan Ummat) yang kita harapkan mampu membawa perubahan untuk Mustarsyidin mencapai kejayaan secara prestasi.

Mustarsyidin dengan Wajah Baru

Penulis berharap, ini bukanlah sebuah khayalan tingkat tinggi tapi akan mampu untuk dilaksanakan dan menjadi momentum kebangkitan Mustarsyidin yang memulai awal tahun dengan masalah yang kompleks. Akan tetapi masalah-masalah terjal yang belum kunjung usai adalah sebuah proses pendewasaan yang harus dihadapi dengan tetap mengedepankan rasa kekeluargaan dan persamaan nasib sebagai seorang Muslim.

Di awal 2011, penulis merancang untuk memfasilitasi seluruh dewan Guru untuk belajar (kursus) Bahasa Ingris sebagai sebuah respon atas sebuah realitas bahwa Mustarsyidin berada di jantung kota Pariwisata yang menuntut seluruh element yang berada didalamnya untuk bisa menguasai dan secara aktif mampu berbahasa Inggris. Begitu juga dengan siswa-siswanya untuk membedakan antara Sekolah yang berada dipedesaan dengan sekolah yang ada di kota seperti Mustarsyidin. Kita boleh berasal dari sebuah pedesaan yang kemudian berurbanisasi ke kota. Tapi latar belakang pedesaan itu jangan pernah mempengaruhi pembentukan otak untuk berfikir ala kota dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan dan adat istiadat.

Penulis juga merencanakan untuk secara pelan-pelan merubah pola pikir Guru yang penulis amati hanya sekedar mematuhi peraturan tanpa memberi contoh tentang kedisiplinan. Semua Guru harusnya sudah mulai malu ketika datang ke Madrasah ini dengan kondisi sebagian besar Murid sudah datang dan seakan-akan menunggu Guru yang belum datang. kita belajar melihat bahwa bangsa ini sudah jauh tertinggal dengan jepang dan china yang benar-benar menghargai waktu. Begitu juga dengan siswa yang datang agak terlambat. Keyakinan penulis, bahwa : kunci dari menggapai sukses adalah kedisiplinan.

2011 sudah harus kita canangkan sebagai tahun tanpa putus asa, terlalu biadab kalu Mustarsyidin kemudian larut dalam carut marutnya budaya bangsa yang tak kunjung maju dan serba menunggu campur tangan langsung Allah untuk merubah keadaan ini.



[1] Buletin ini terbit setiap hari senin

[2] Kepala Madrasah Ibtidaiyah Raudlatul Mustarsyidin


Hasil Seleksi Siswa Baru 2011

Lihat Hasil Seleksi Siswa Baru 2011 Gelombang 1 MI Raudlatul Mustarsyidin.